Tuesday, October 15, 2013

Yamaha Mio, Tercepat Karena Kompresi



Bukan seperti nasi goreng yang special karena pakai telor. Tapi,  Mio drag ini jadi spesial karena mampu pecahkan rekor tercepat di dua kelas sekaligus. Yaitu, Super FFA Matik dan Super FFA di ajang Drag Bike TDR YSS Comet DID di Jogja, beberapa waktu lalu. Dan di ajang Seri III Achiles-Corsa Drag Bike  di Sentul (23/10) lalu tembus 6,959 detik. Itu, berkat kompresi tak terlalu tinggi!

Mio bersasis titanium ini mampu melesat hingga Mencatat waktu 7,040 detik. Padahal, isi besutan hanya sentuh 294,5cc. Tapi, berdasarkan hasil yang diraih.

"Sebenarnya kalau bicara pemakaian part di mesin, ya sama seperti motor lain pakai. Karena part dari Thailand pun sudah banyak beredar di pasaran dan dipakai mekanik lokal. Mungkin, ini kali, seting mesin cocok dengan karakter Penunggang nya. Makanya dia bisa Mencatat rekor,” ungkap Utomo atau akrab disapa Tomo.

Memang, Tomo mengaku kalau mesin Mio ini juga dibawanya dari Thailand. Maksudnya, bukannya tunner dari Negeri Gajah Putih itu yang disuruh datang. Melainkan, Tomo pesan dan riset mesin dari Thai dan diboyong ke Indonesia.

"Tapi, setelah diperhatikan, sepertinya tidak ada bedanya dengan kreasi tunner Indonesia. Makanya saya gak menganggap spssial,” ungkap pria berkacamata pemilik Tomo Speed Shop di Jl. Bendungan Jago Raya, No. 6-7, Kemayoran, Jakarta Pusat.



Terlepas dari itu, Tomo pun mengaku kalau rasio kompresi mesin yang diterapkan hanya sentuh angka 12 : 1. Tidak seperti pacuan drag yang umumnya banyak bermain di atas angka itu.Pakai kompresi tidak terlalu tinggi, tujuannya agar performa lebih baik di putaran menengah ke atas. “Kalau terlalu galak di putaran bawah, takutnya mengganggu kontrol joki saat start. Akibat terlalu liar, bisa hilangkan waktu cukup banyak,” jelas suami dari Lice itu. Kompresi rendah juga enak di trek panjang.Kompresi didapat dari pemakai piston forging LHK diameter 66mm yang diperuntukan bagi Mio. Bentuknya hampir sama seperti piston Honda CBR 150R. Tapi,  jika diperhatikan seksama, jarak antara pen ke permukaan piston yang diadopsi LHK lebih tinggi. “Hanya tinggi sekitar 0,5mm saja. Jadi, permukaan piston sejajar dengan bibir blok meski stroke sudah dibikin naik hingga 86mm,” beber pria 26 tahun yang baru menikah itu.Tapi menurut Tomo lagi, sepertinya ini yang membedakan setingan tunner Thai dengan Indonesia. “Tunner kita lebih senang padatkan kompresi dari ubahan head. Tapi kalau Thailand, head malah banyak dicoak agar kompresi rendah. Maka itu, setelah pakai paking almu 3,5cm tetap pakai paking blok tembaga 0,5mm,” tambahnya lagi.Bicara durasi noken as, Tomo tidak ada dial tepat. Itu karena mekanik Thailand lebih menerapkan hitung tinggi bumbungan dan pinggang. Tinggi, 27mm dan pinggang 19. “Sebelumnya pakai 26mm dan pinggang 18mm. Tapi, efeknya putaran atas saja yang bagus. Kalau pakai 27/ 19mm, bisa bantu putaran bawah,” tutupnya.
Siap Ke ThailandSeperti dikatakan, seting engine tetap pakai yang sekarang. Yup! Misal, pakai klep 34mm (in) dan 30mm (ex) merek EE5. Alasannya pakai klep ini, karena diameter batang klep yang diaplikasi bervariasi. Ya, batang klep in 5mm dan klep ex 4,5mm. "Lebih kecilnya batang klep ex, rpm mesin makin ringan buat capai rpm tinggi," jelas Tomo.Lalu, knalpot tetap pakai diameter leher pipa 30mm. Tidak tertinggal, CDI Fino merek Sepco. Karburator pun tetap pakai Keihin SP 28mm yang sudah direamer hingga 33mm. "Sebelum pergi, paling hanya melakukan pengecekan saja. Nah, ini juga yang kadang jadi pertanyaan kenapa mesin Thailand suka enggak awet. Tapi, mesin saya awet-awet aja tuh,” kata Tomo. Saran Tomo, baiknya lakukan penggantian komponen secara berkala. Misal, per klep ganti setiap 2–3 event. Lalu, ganti boring jika clearance liner sudah lebih dari 0,05mm.
DATA MODIFIKASI
Ban depan        : Vee Rubber 45/90-17
Ban belakang    : Vee Rubber 60/80-17
CDI            : Yamaha Fino
Roller             : 11 gram
Kampas kopling: LHK

0 komentar:

Post a Comment